Gumoh adalah aliran balik isi lambung ke dalam kerongkongan
dan dikeluarkan melalui mulut yang berlangsung secara involunter. Keadaan ini
sering ditemukan pada bayi dan merupakan salah satu keluhan yang sering
disampaikan oleh orangtua pada saat kunjungan ke dokter.
Dilaporkan, 80% bayi sehat berumur 1 bulan mengalami
regurgitasi paling sedikit 1 kali setiap harinya, meningkat menjadi 40-50% pada
umur 6 bulan, dan selanjutnya menurun secara bertahap hingga mencapai 3-5% pada
umur 12 bulan. Lebih kurang 25% orangtua dari bayi tersebut menganggap
regurgitasi sebagai suatu masalah. Isi dari cairan lambung yang masuk ke dalam
kerongkongan dapat berupa air liur, makanan-minuman, asam lambung, pankreas,
atau empedu.
Gumoh yang berlanjut dengan volume banyak dan frekuensi
sering dapat menyebabkan paparan asam lambung pada dinding keronkongan
meningkat pula, sehingga merusak dinding kerongkongan (esofagitis).
Pada
keadaan normal, asam yang ada di dalam kerongkongan akan dibersihkan oleh
gerakan peristaktik dari kerongkongan dan produksi air liur yang ditelan setiap
saat oleh anak.
Gejala klinis
Gumoh umumnya jarang ditemukan di atas umur 1 tahun.
Komplikasi akibat paparan asam lambung yang terlalu banyak dan lama perlu
dipertimbangkan bila ditemukan pucat (anemia), darah pada muntahan atau tinja,
menolak makan, kenaikan berat badan yang adekuat, rewel berlebihan.
Gejala nyeri umumnya timbul akibat paparan asam lambung
berlebihan atau berlangsung lama pda dinding kerongkongan. Bayi akan menjadi
rewel, cengeng, dan kadang-kadang sampai menjerit. Bayi juga sering
memperlihatkan posisi mengkakukan punggungnya saat atau setelah makan (back
arching). Pada esofagitis berat mungkin dijumpai darah pada isi muntahan, nyeri
atau gangguan menelan, dan darah pada tinjanya.
Gangguan yang yang berlangsung
terus menerus dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Gagal tumbuh terjadi bila
jumlah masukan nutrisi lebih sedikit dibanding jumlah yang keluar.
Tata laksana
Pada bayi yang tampak sehat, tumbuh dengan baik, dan tanpa
gejala komplikasi, tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang diagnostik. Bayi
dengan problem minum (seperti; menolak minum, regurgitasi setiap minum), sulit
tidur, atau menangis yang berlebihan sering menimbulkan kecemasan pada
orangtuanya.
Orangtua harus memamhami tentang kondisi yang ada, karena dengan
pemahaman yang tepat diharapkan dapat mengurangi kecemasan orang tua. Kecemasan
orang tua tidak akan hilang selama gejala klnis pada bayinya tidak berkurang.
ASI eksklusif tetap merupakan pilihan utama pada bayi dengan
regurgitasi. Beberapa kajian memperlihatkan bayi dengan ASI secara eksklusif
mengalami regurgitasi lebih sedikit dibanding mereka yang mendapat susu
formula.
Bila gumoh sangat berlebihan sehingga menimbulkan kecemasan
orangtua yang berlebihan pula, maka bayi yang oleh karena sesuatu hal tidak
mendapat ASI eksklusif atau sudah mendapat susu formula dapat diberikan
thickening formula.
Thickened formula ada yang beredar dipasaran tetapi dapat
pula dibuat melalui modifikasi dengan cara mencampurkan 5 gram tepung beras (1
sendok takar) ke dalam 100 ml susu formula. Thickened formula telah dibuktikan
dapat mengurangi gumoh dan memperpanjang lama tidur. Thickened milk tidak
diberikan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif.
Posisi tidur terlentang dengan sudut 45-60 derajat dengan
alas tempat tidur dianjurkan pada bayi dengan gumoh berlebihan. Pada bayi dalam
posisi miring, harus diperhatikan posisi lengannya agar bayi tidak menyebabkan
posisi tengkurap. Hindarkan penggunaan alas tidur yang terlalu empuk.
Obat mungkin diperlukan pada sebagian kecil bayi, tetapi
harus di bawah pengawasan ketat dokter. Obat yang diberikan harus rasional dan
bertujuan agar kualitas hidup bayi tidak terganggu. Orangtua harus kritis
terhadap obat yang diberikan kepada anaknya. Pemberian obat penekan asam
lambung yang sudah lama tetapi tidak memperlihatkan perbaikan klinis nyata,
perlu dilakukan evaluasi diagnosis.
Kesimpulan
Gumoh merupakan suatu keadaan fisiologis yang sering
ditemukan pada bayi, namun dapat berkembang menjadi patologis sehingga
menimbulkan masalah bagi bayi.
Tata laksana gumoh perlu dipahami secara tepat
agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah komplikasi.
Sumber : IDAI www.idai.or.id
Ditulis oleh: Admin RSU Wajak Husada
Terakhir diubah: 14 Jun, 2021 19:45